Selasa, 15 November 2011

Politik Dalam Negri

Tentang Politik Dalam Negeri (Pemilu)

Hanya sebuah komentar/pertanyaan tetapi membuat Blog I-I merasa perlu memberikan sedikit pandangan, yaitu pertanyaan mengenai pemilu, kemenangan incumbent SBY dan kekelahan incumbent JK, serta peranan intelijen. Sebuah komentar yang agak tendensius, namun kritis dan berupaya mencari tahu dengan dugaan adanya suatu peranan tertentu dari intelijen dalam pemilu.

Posisi Blog I-I adalah menghendaki intelijen bersih dari pertarungan politik dalam negeri, serta berkonsentrasi dengan seluruh ancaman terhadap kepentingan bangsa dan negara (bukan kepentingan kelompok atau elit politik). Posisi cukup berpengaruh ke dalam sendi jaringan intelijen Indonesia yang reformis, yang menghendaki profesionalisme dan keseimbangan antara tekanan kekuasaan dan obyektifitas analisa intelijen yang berlandaskan kepada kepentingan bangsa dan negara.

Khusus mengenai fenomena kemenangan incumbent SBY, saya dapat menyampaikan secara gamblang bahwa:

Peranan intelijen dapat dinilai tidak signifikan dalam mempengaruhi hasil pemilu. Satu hal pasti adalah intelijen turut berperan dalam menjaga ketertiban dan menghilangkan ancaman terhadap proses berlangsungnya pesta demokrasi.

Kemenangan SBY lebih dipengaruhi oleh peranan media, popularitas, efektifitas kampanye, dan kelemahan mendasar yang melekat pada pasangan calon presiden dan wapres lainnya. Misalnya JK, kelemahannya terletak pada tidak solidnya dukungan di dalam Partai Golkar dan adanya keinginan dari sebagian elit Partai Golkar untuk merapat kepada SBY. Kemudian Wiranto memiliki kelemahan mendasar dalam soal citra buruk di masa lalu yang belum dilupakan oleh rakyat Indonesia. Wiranto sama sekali tidak mencerminkan antagonisme dengan SBY, karena kelemahan Wiranto sebagai seorang Jenderal pimpinan tertinggi pada masa akhir Pemerintahan Suharto adalah kebimbangan dan kurang percaya diri dalam menempuh nasionalisme total semi militerisme yang ditawarkan Suharto, hal itu mencerminkan mentalitet tentara yang lembek. Dengan kata lain, kekalahan JK-Wiranto sudah terukur secara analisis politik bahkan jauh sebelum masa kampanye, mohon rekan-rekan juga mendalami analisa kekuatan-kekuatan politik secara akademik dengan kalkulasi yang akurat (pelajari model-model political comptetition: theory and application).

Potensi yang cukup lumayan justru ada di kubu Mega-Prabowo, dengan basis massa PDI-P yang telah terukur sekitar 25-30%, sesungguhnya hanya dibutuhkan tambahan sekitar 15% dengan asumsi JK-Wiranto mampu mencapai 15% suara. Sudah cukup untuk putaran kedua dan ketika suara menyatu, maka incumbent SBY akan kewalahan pada putaran kedua. Namun hal itu tidak terjadi bukan?

Mengapa?

Prabowo dengan rebirth program, boleh saya acungkan jempol karena popularitasnya meningkat tajam dan mampu mencerminkan diri sebagai antagonis SBY, artinya dapat menyedot minat pemilih dalam pemilu. Ternyata ada suatu kelupaan dalam rebirth program Prabowo, yaitu prosesnya belum matang dan terlalu cepat mengkristalkan konsep kerakyatan yang tampak tidak meyakinkan karena fakta berbicara lain, artinya rakyat dapat merasakan angin harapan dari konsep kerakyatan Prabowo namun belum cukup yakin bahwa hal itu akan membawa perubahan yang signifikan. Tidaklah cukup 2-3 tahun bagi Prabowo untuk lahir kembali dalam suatu wajah yang menjanjikan perbaikan bagi bangsa dan negara Indonesia. Belum lagi, sejumlah kalangan aktivis secara aktif menyerang latar belakang sejarah Prabowo terkait isu HAM dan militerisme yang berlebihan. Akibatnya, ada keraguan yang besar di dalam hati dan benak pemilih. Pasangan Mega-Prabowo tertolong oleh basis massa yang loyal kepada ideologi nasionalisme yang diusung PDI-P, sehingga tetap mampu menarik suara yang besar, namun tidak cukup untuk menjadi pemenang.

Catatan tersebut diatas tidak memerlukan analisa kompetisi politik yang rumit karena mudah ukurannya. Terlepas dari persoalan Daftar Pemilih, persoalan administrasi, dan kemungkinan adanya kecurangan, saya melihat bahwa analisa dan ukuran yang kita berikan secara awam (common sense) telah dapat menjawab mengapa incumbent SBY menang kembali. Tambahan poin dengan memilih pasangan Boediono yang tampak apolitis, sangat menarik minat kalangan menengah (middle class) di perkotaan yang melihat adanya potensi perbaikan ekonomi yang semakin cepat.

Saya tidak bermaksud menegasikan adanya peranan intelijen dalam menyukseskan terpilihnya kembali incumbent SBY, namun bila dibandingkan dengan peranan intelijen dalam rekayasa politik demokrasi era Orde Baru, maka Indonesia telah amat sangat jauh berubah, dan peranan intelijen juga demikian, tidak ada lagi celah yang dapat membuat intelijen seenaknya merekayasa politik dalam negeri untuk kepentingan kekuasaan.

Pengawas ada di mana-mana, peranan LSM dan aktivis civil society begitu besarnya, partai politik memiliki ruang gerak yang lebih bebas dibandingkan era Orde Baru. Maka saya dapat yakin bahwa intelijen dengan reformasinya telah mulai menata diri untuk tidak terjebak dalam kompetisi politik di dalam negeri.

Sekiranya ada hal-hal yang rekan-rekan pikir kurang tepat, mohon koreksinya.
Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar